thelighthousepeople.com, Prabowo 2029: Parpol Penuh Bodo Amat Sama Gibran? Pemilu 2029 mulai terasa panas sejak kini, meski masih jauh dari tanggal resmi. Di tengah sorotan publik, muncul dinamika unik antara Prabowo Subianto, tokoh politik senior, dengan Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Jokowi. Banyak partai politik terlihat acuh tak acuh terhadap hubungan kedua figur ini. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah parpol lebih fokus pada kepentingan sendiri daripada arah politik negara?
Parpol dan Sikap Acuh Mereka
Beberapa partai politik seakan menutup mata terhadap apa yang terjadi antara Prabowo dan Gibran. Tidak ada dukungan eksplisit, tidak ada kritik terang-terangan, hanya sikap diam yang menimbulkan tanda tanya. Hal ini menunjukkan satu hal: banyak parpol lebih sibuk menjaga citra internal dan posisi kekuasaan daripada memperhatikan dinamika politik nasional.
Sikap “bodo amat” ini bukan tanpa konsekuensi. Publik bisa melihatnya sebagai tanda bahwa politik Indonesia sedang kehilangan orientasi. Alih-alih menjadi arena debat kebijakan, beberapa partai lebih mementingkan kepentingan pribadi pimpinan dan aliansi semu. Dampaknya terlihat jelas: rakyat mulai skeptis dan jarang lagi percaya pada janji politik.
Prabowo, Gibran, dan Pilihan Politik
Prabowo dikenal sebagai politisi dengan pengalaman panjang, sementara Gibran adalah wajah baru yang masih mencari pijakan. Interaksi mereka di mata publik menjadi semacam simbol: apakah politik generasi lama dan baru bisa bersinergi atau justru berseberangan?
Bagi sebagian pihak, perbedaan gaya dan pendekatan ini menimbulkan ketegangan terselubung. Prabowo membawa pengalaman dan jaringan lama, sedangkan Gibran menghadirkan energi baru serta pendekatan yang lebih santai. Tapi yang lebih menarik adalah bagaimana parpol menanggapi perbedaan ini: sebagian besar memilih diam, atau bahkan terlihat netral, seolah urusan mereka bukan menyelesaikan masalah tapi menjaga posisi masing-masing.
Dampak Sikap Parpol terhadap Elektabilitas

Diamnya parpol tidak serta merta membuat politik menjadi tenang. Justru sebaliknya, publik mulai membaca pesan tersirat. Ketika elite politik memilih untuk “bodo amat”, masyarakat merasa kehilangan kontrol atas arah politik. Elektabilitas calon bisa dipengaruhi oleh cara partai merespons dinamika ini.
Bagi Prabowo, situasi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Sisi positifnya, ia tetap bisa tampil sebagai figur kuat tanpa terjebak konflik internal parpol. Namun sisi negatifnya, ketidakpedulian parpol bisa memperlambat kampanye atau mengurangi dukungan politik yang ia butuhkan untuk membangun koalisi.
Gibran, sebagai generasi baru, menghadapi tantangan berbeda. Sikap acuh parpol bisa memberinya ruang untuk menonjolkan diri atau justru membuatnya tampak tersisih dari arus politik utama. Bagaimana ia bergerak, dan apakah ia bisa memanfaatkan situasi, akan menentukan posisinya menjelang 2029.
Politik Bercorak Baru atau Lama?
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah politik Indonesia sedang bergerak ke arah baru atau tetap terjebak pola lama? Sikap parpol yang “bodo amat” terhadap interaksi Prabowo dan Gibran menunjukkan bahwa sebagian besar partai masih menggunakan strategi lama: menjaga stabilitas internal, menghindari risiko, dan menunggu situasi mengendap.
Namun ada juga peluang untuk perubahan. Munculnya figur muda seperti Gibran bisa memicu dinamika baru jika mampu menantang status quo. Publik semakin menuntut transparansi, keberanian, dan konsistensi dalam berpolitik. Partai yang gagal merespons dengan bijak akan kehilangan relevansi, sementara mereka yang adaptif bisa meraih dukungan signifikan.
Rakyat dan Persepsi Politik
Rakyat mulai jenuh dengan politik yang tampak seperti sandiwara. Mereka menyaksikan elite politik memilih diam saat isu penting muncul. Fenomena ini memperkuat persepsi bahwa politik Indonesia masih dikuasai kepentingan internal, bukan aspirasi rakyat.
Media sosial menjadi barometer opini publik. Setiap gerakan Prabowo atau Gibran, setiap komentar parpol, dikritisi, dibahas, dan dijadikan meme oleh masyarakat. Fenomena ini menciptakan tekanan tersendiri bagi partai untuk lebih responsif, karena diam bukan lagi pilihan aman—diam justru bisa memicu kritik lebih besar.
Pelajaran dari Sikap Acuh Parpol
Sikap acuh ini mengajarkan satu hal jelas: politik bukan sekadar hubungan antar figur atau partai, tapi juga tentang persepsi publik. Partai yang terlihat tidak peduli dengan dinamika politik utama akan kehilangan posisi moral dan pengaruh.
Bagi calon pemimpin, baik Prabowo maupun Gibran, penting memahami ini. Kekuatan politik tidak hanya datang dari jaringan lama atau nama besar, tapi juga kemampuan membaca opini publik, menyesuaikan gerak langkah, dan memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh parpol yang diam.
Jika dibiarkan, pola ini bisa mengarah pada stagnasi politik: elite fokus pada diri sendiri, rakyat merasa diabaikan, dan demokrasi kehilangan vitalitas. Inilah tantangan terbesar menjelang Pemilu 2029.
Kesimpulan
Dinamika politik antara Prabowo dan Gibran di tengah parpol yang acuh mencerminkan kondisi politik Indonesia saat ini: elite lebih peduli dengan kepentingan internal daripada aspirasi rakyat. Sikap “bodo amat” parpol bukan tanpa risiko—ia bisa menurunkan elektabilitas, memicu skeptisisme publik, dan membuka peluang bagi figur baru untuk tampil menonjol.
Prabowo tetap menjadi figur sentral dengan pengalaman dan jaringan kuat, sementara Gibran mewakili wajah baru dengan pendekatan berbeda. Bagaimana mereka bergerak, dan bagaimana parpol merespons, akan menentukan arah politik Indonesia menjelang 2029. Publik menunggu langkah nyata, bukan diam pasif, dan tekanan opini semakin besar. Satu hal jelas: politik tidak bisa lagi diabaikan, dan partai yang tetap memilih acuh akan kehilangan relevansi.
